Minggu, 08 Januari 2012

PEREMPUAN SAMARIA


Hari ini kutuliskan segala yang terjadi
Tentang seorang lelaki padang pasir yang begitu tulus dengan suara damainya
Tentang kesetiaan dan cintanya
Pada hidupnya hidup dan matinya kematian
Penyelamat hatiku….
Aku seorang pelacur , terlahir dari suku yang terasing , telah terkalahkan dan menguburkan kebesaran leluhurnya dibawah kekuasaan kaki-kaki penakluk manusia.
Saat kau datang kesuku kami , kurasakan kelembutan matamu  dan  membuatku menari disisi Mu

Penyelamatku…
Kedalaman perasaanku telah menghantarkan apa yang patut kau dapatkan dariku
Didalam asaku….. aku selalu berharap merasakan gengaman selimut dan merintih disaat rahimku menjadi kanak-kanak dunia
Ku urapi engkau dengan minyak zaitun dan kubasuh kakimu dengan rambutku
Kau sungguh sempurna , sebagai lelaki dari sekian lelaki yang datang padaku disaat malam
Hendaknya kau menjadi panutan para kesatria, buat apa pedang dihunuskan dan perisai dikedepankan, sementara wanita-wanita tidak tahu mana yang akan diurapi diantara panji-panji kekuatan atau kepalanya?

Lelaki bermata damai … aku tidak bisa duduk bersamamu dan berbicara seperti mereka..
Aku tidak mempunyai bahasa lagi, sebab itu telah diambil oleh mereka yang telah mengalahkan kami dan mendudukan kaumku dibawah yang terhina
Kami adalah sampah yang hanya mampu sadar untuk tidak meraih bulan
Siapakah yang mau terlahir sebagai sampah menurutmu?
Kami tidak menghendaki ini namun mereka yang melahirkan kami dalam sebuah status
Dan ludah wanita-wanita terhormat telah menempel pada wajah kami

Menjadi manusia adalah sulit bagi kami,,
Menjadi binatang itulah yang telah dimahkotakan pada kami
Kami adalah stabilitas yang menstabilkan kududukan bangsa-bangsa terhormat
Tidak ada terhormat tanpa terhina untuk bisa hadir sendiri

Tidakkah kau tahu… saat mereka datang pada kami…
Dimata mereka kami adalah binatang-binatang kelaparan yang hanya diberi makan dan elusan tangan-tangan harum

Lelaki lembut… saat kau bicara tentang surga dan kedamaiannya
Kami menyambutnya dalam senyum, namun dihati kami begitu banyak keperihan yang sulit untuk mempercayai adakah janjimu itu bukan hayalan
Kami tidak tahu lagi tentang bahagia itu, selain senyum dan tersenyum
Senyuman kami merupakan jawaban …. Kenapa Tuhan membiarkan kami
--------
Cihampelas, Bandung., 2002

olive

Tidak ada komentar:

Posting Komentar