PEREMPUAN.... BICARALAH PADAKU
Kelamnya hidup bukanlah seperti patung yang berjejer
Menatap alam diatas tujuh puncak surgaloka
Sementara altar zaman telah meletakkan jasad-jasad kesucian , tanpa dikafani, telanjang, mulut terngangga
PEREMPUAN ..MASIHKAH AWAN TEMPAT TIDUR MU?
Di manakah harapan itu kau bangun?
Sementara waktu dan kehidupan menyeretmu secara perlahan dan pasti kearah tua.
Menjadi tua itu tertancap keras di bumi kepastiannya, bukan diatas awan dan langit.
Dan tidak bisa keluar lagi. Tua tidak lagi bersentuhan dengan kulitnya,
karena keindahan kulitnya telah menjadi alur-alur waktu yang kering di
musim-musim lalu, menjadikannya kehilangan bentuk rupa.
Janganlah menjadi tua sebelum masa pertumbuhan pudar menurut masanya. Cita-cita bukanlah matahari yang membakar diri.
Di dalam kebeningan mata mu, ada banyak keinginan / dan di lubuk hatimu tersimpan kepiluan.
Ke-nang-lah harapan-harapan lalu yang telah kau bangun dan hancur/ untuk kesadaran dirimu, disaat pikiran melahirkan ketakutan.
Tanpa ketakutan , kesadaran akan hilang dan kesadaran itu adalah mimpi yang datang tak terduga.
Jawablah mimpi-mimpimu itu.
PEREMPUAN..DENGARKANLAH SUARA RAHIM JIWAMU.
Seorang bayi telah menangis. Bayimu adalah realitas yang terjadi.
Meraung-raung bersuara di angkasa/ mengalahkan azan pagi. Dibawah
terang dan diikuti kegelapan..akan ter-tipu-nya kejujuran hati.
Mari beri ranjang bagi lolongan jiwa
Dan usapi darah-darah yang terkucur dari suatu pengorbanan cinta
Besarkan realitas ini! Walau realitas itu hadir dari akibat kesalahan kau dan sejarah
Mereka adalah anak-anak jiwamu
Jangan dibunuh kesalahan itu, sebab itu penghianatan atas Hukum kehidupan.
Sebab semua yang hidup selalu berawal dari kesalahan, serta menikmatinya
Kita bukan Tuhan yang menentukan kematian dan kehidupan.
PEREMPUAN...KATAKANLAH ENGKAU MENANGIS.
Zaman tidak mendengarmu, bahkan ribuan tahunpun
Jeritan keperihan seakan bagaikan nyanyian hidupnya sejarah manusia
Menahan tangis adalah tangisan sepanjang zaman
Menangislah engkau saat ini. Menangislah…
Biarkan air matamu jatuh.
Jika menangis,...tentulah sepi itu tidak pernah hadir dihati.
PEREMPUAN...TATAPLAH LANGIT
Bersama air mata yang membayangi sinar matamu
Basuhlah jiwamu dengan urapan kasih yang masih tersisa
Megahkan dirimu / pukullah genderang perang
Agar kau tidak merasa terasing dengan nasibmu.
====
Buah Batu, Bandung, 2001
By. Paulus Olive Tumbur Simanungkalit., SP

Tidak ada komentar:
Posting Komentar