Magda… lena.. mengapa kau tatap wajahku?
Aku berkata jujur padamu dari lubuk hatiku
Adalah surga terbayang sebagai taman
Dimana bunga-bunga mekar dan lebah-lebah serta kupu-kupu hinggap
Dan bercinta bersama manisnya madu
Alam berseri menjadi sahabatnya manusia
Aku dan engkau berdiri diantara surgaku dan surgamu
Surgaku yang mampu menghubungkan ribuan bahkan milyaran mil
gugusan bimasakti
Sehingga Matahari, bulan, Mars sampai Pluto teramat dekat
Aku ingin duduk dalam perjamuanmu
Biarlah roti dan mungkin asamnya anggur hidupmu dapat kurasakan
S”bab aku ingin tahu surgamu
Aku datang padamu , namun tidak kutemukan roti dan anggur
Mengapa kumbang dan kupu-kupu menghisap madumu ,
Kini kau tuangkan madu dirambutku
dan kau bersihkan deritaku dengan mahkotamu
Cinta bukanlah roti dan anggur
Tetapi pengampunan dimana madu menghilangkan pahitnya derita
dan mahkota yang menimbulkan kembali keindahan seperti sediakala
Aku akhiri batu-batu yang menerpa tubuhmu ,
tidaklah mungkin tuhan-tuhan dunia ini memamtikan perasaanmu
Mulutmu diam seribu bahasa
Tapi senyuman dan sinar matamu melebihi kejujuran yang kumiliki
Bahwasanya kau pantas menerima batu-batu penghakiman tersebut
Tidak..Magda..kau tidak boleh mati saat itu
Bukan kau yang harus menyelamatkan derita dunia ini
Tapi Aku…putra Dewata
Tahukah kau saat kutulis coretan diatas pasir?
Betapa sulitnya mengungkapkan dengan suara…
siapakah engkau dan mereka sebenarnya?
Akupun tidak tahu apa yang harus kuselamatkan…dagingmu atau hatimu, ataukah keduanya?
Mulutku saat itu terkunci
Walaupun kegelapan oleh orang-orang suci tetaplah gelap
Tapi kau telah mengubahnya
Magdalena …kulihat engkau menangisi aku yang sekarat ini
Magda…...aku tidak ingin menjadi Dewa
Yang berakhir dimenara monumen
Aku ingin seperti engkau dengan segala deritamu,
sebab dihatimu tidak ada dinding ratapan.
Para nelayan berlayar menurut apa kata hati bintang-bintang,
tapi engaku hanya senyuman, kekuatan, kelembutan dan cinta.
Itulah membedakan kau dengan tamu yang lain diperjamuan malam itu.
Aku ingin tinggal bersamamu
Lihatlah jeritan darahku telah merobek kesucian yang telah berdiri begitu munafik
Kesucian yang dibangun ribuan tahun dari darah dan daging
Kini kuakhiri….
Tapi aku tidak tahu apakah akan berakhir?
Magda…pulanglah …
Serta jangan kau tangisi aku
Altar dan zaman tidak mengetahui perasaanmu
Telah kutetapkan untuk hadir kembali bersamamu
---
Cihampelas, bandung, 2001
Tidak ada komentar:
Posting Komentar